Kamis, 03 Oktober 2019


M1. Pengenalan Manajemen Proyek
Latar Belakang
Manajemen  proyek  merupakan  suatu  tata  cara  mengorganisir  dan  mengelola  sumber  penghasilan  yang  penting  untuk  menyelesaikan  proyek  dari  awal  sampai  selesainya  proyek  tersebut.  Manajemen  proyek  dapat  diterapkan  pada  jenis  proyek  apapun,  dan  dipakai  secara  luas  untuk  dalam  menyelesaikan  proyek  yang  besar  dan  kompleks.  Fokus utama manajemen proyek adalah pencapaian semua tujuan akhir proyek dengan segala batasan yang ada, waktu dan dana  yang tersedia.Seiring  berkembangnya  teknologi  informasi,  manusia  mulai  menggunakan  komputer  dalam  melakukan  manajemen  proyek,  untuk  membantu  otomatisasi  dan  perhitungan.  Peralihan  manajemen  proyek  dengan  menggunakan  komputer  membuat  manajemen  proyek  menjadi lebih cepat, efektif dan efisien. Perkembangan perangkat lunak  yang  pesat  juga   mendorong  transformasi  manajemen  proyek  yang  tradisional  menjadi sebuah perangkat lunak manajemen proyek.Perangkat  lunak  manajemen  proyek  (project  management  software)  adalah suatu kumpulan perangkat lunak yang mendukung perancangan dan pelaksanaan suatu pr oyek dengan menggunakan media komputer. Perangkat lunak manajemen proyek ini membantu  kepala  proyek  dalam  perancanaan,  pengorganisasian,  dan  manajemen  sumber  daya  dalam  proses  penyelesaian  suatu  proyek.  Perangkat  lunak  manajemen  proyek ini bertujuan untuk membantu mencapai tujuan dan hasil akhir proyek, dengan batasan-batasan  yang  ada.  Tujuan  ini  dapat  dicapai  dengan  cara  mengoptimisasi  alokasi sumberdaya yang ada, dengan batasan, waktu, dan biaya.
Menurut  buku  The  Design  of  Everday  Things,  ketika  sebuah  alat  yang  sederhana  memerlukan  gambar,  tulisan,  ataupun  instruksi,  rancangan  alat  tersebut  telah  gaga l  (Don  Norman,  2002).  Agar  sebuah  perangkat  lunak  dapat  diterima  o leh pengguna secara  luas  dan  berfungsi  secara  optimal,  maka  perangkat  lunak  tersebut  harus  dirancang  dengan  baik.  Perangkat  lunak  tersebut  harus  disusun  secara  baik  dengan  berbagai  pertimbangan  sehingga  dapat  mengerti  dan  memenuhi  kebutuhan  pengguna  secara  spesifik.  Pengguna  seharusnya  tidak  perlu  memikirkan  bagaimana  cara    berinteraksi    dengan    komputer,    tetapi    yang    penting    justru    bagaimana    mengoptimalkan komputer untuk memenuhi kebutuhannya. Ada banyak syarat supaya suatu perangkat lunak dapat diterima oleh pengguna secara  luas.  Salah  satu  syarat  penerimaan  pengguna  terhadap  suatu  perangkat  lunak  adalah usability. Usability adalah sebuah ukuran kualitas pengalaman pengguna pada saat  berinteraksi  dengan  sebuah  produk  atau  sistem.  Pada  hubungannya  dengan  interaksi   manusia   dan   komputer   dan   ilmu   komputer,   usability   mempelajari keunggulan  dan  kemudahan  sebuah  interaksi  dengan  desain  sebuah  perangkat  lunak.  Sebuah  perangkat  lunak  yang  mempunyai  usability  yang  baik  lebih  efisien  untuk  digunakan, lebih mudah dipelajari, dan memuaskan untuk digunakan.Usabilitymencerminkan    keberhasilan    sebuah    sistem    diterima    oleh    penggunanya  (Nielsen,  1994).  Antarmuka  sebuah  perangkat  lunak  yang  dirancang  dengan prinsip usability yang baik dapat membuat pekerjaan menjadi lebih produktif, efektif,  efisien,  aman,  dan  fungsional.  Pekerjaan  menjadi  lebih  mudah  diselesaikan  dengan  interaksi  yang  baik,  sehingga  menguntungkan  pengguna.  Senada  dengan  itu,  rancangan  antarmuka   yang  tidak  sesuai  dapat  mengakibatkan  masalah  yang  tidak  diharapkan, dan pada akhirnya merugikan pengguna.Suatu  perangkat  lunak  yang  tidak  memenuhi  prinsip  usability  Nielsen  tidak  akan  mudah  untuk  dipelajari,  sehingga  pengguna  awam  akan  susah  untuk  memulai  penggunaan perangkat lunak tersebut. Perangkat lunak tersebut juga tidak akan efisien dalam  penggunaan,  sehingga  pengguna  menghabiskan  lebih  banyak  waktu  untuk  menyelesaikan  suatu  pekerjaan.  Perintah-perintah  pada  perangkat  lunak  yang  tidak  memebuhi prinsip usability Nielsen juga tidak akan mudah diingat oleh pengguna, dan rawan akan kesalahan, baik yang dilakukan secara sengaja maupun tidak sengaja, oleh pengguna.  Bila  semua  faktor-faktor  diatas  ditambahkan,  maka  pengguna  tidak  akan  puas dengan perangkat lunak tersebut.Prinsip-prinsip  perancangan  antarmuka  pada  interaksi  manusia  dan  komputer  juga  berlaku  pada  perangkat  lunak  manajemen  proyek.  Sebuah  perangkat  lunak manajemen  proyek  harus  dapat  memenuhi  kebutuhan-kebutuhan  berbagai  penggu na  yang  memiliki  latar  belakang  yang  beragam.  Oleh  sebab  itu,  penulis  berkeinginan  menganalisis prinsip usability sebagai salah satu prinsip-prinsip interaksi manusia dan komputer pada perancangan antarmuka perangkat lunak manajemen proyek.
Sejarah Manajemen Proyek
Manajemen Proyek telah diterapkan dari awal perabadan manusia. Kemudian baru pada tahun 1900 an Manajemen Proyek dengan proses sistematiknya diterapkan pada proyek rekayasa yang kompleks. Tahun 1950 menandai awal era Manajemen Proyek modern datang bersama-sama dengan bidang Rekayasa Teknis (Enjinering) sebagai satu kesatuan. Manajemen proyek menjadi dikenal sebagai suatu disiplin ilmu yang berbeda yang timbul dari disiplin ilmu manajemen dengan model rekayasa di Amerika Serikat.
Ada beberapa literatur yang menunjukkan awal perkembangan manajemen proyek modern, yaitu:
1.      Henry Fayol’s (1916) yang menyebutkan lima fungsi manajer yaitu merencanakan, mengorganisasikan, mengkoordinasikan, mengendalikan, dan mengarahkan.
2.      Kerzner (1998) yang mengamati bahwa manajemen proyek adalah “outgrowth of system management”.
Ada empat kelompok besar periode perkembangan manajemen proyek seperti yang disebutkan Young Hoon Kwak dalam brief history of Project Management seperti yang terlihat pada tabel dibawah ini:
http://manajemenproyekindonesia.com/wp-content/uploads/2013/11/Four-Period-of-Management-Project.png
Sebelum tahun 1950-an secara garis besar, proyek dikelola dengan menggunakan Grafik Gantt, sebagai suatu alat dan teknik informal. Pada saat itu, dua model penjadwalan proyek dengan model matematis sedang dikembangkan. Yang pertama adalah Metode Jalur Kritis (CPM – Critical Path Method) yang dikembangkan pada suatu proyek sebagai usaha patungan antara DuPont Corporation dan Remington Rand Corporation untuk mengelola proyek-proyek pemeliharaan tanaman. Kedua adalah “Evaluasi Program dan Tinjauan Teknik” (atau PERT – Program Evaluation and Review Technique), dikembangkan oleh Booz Allen Hamilton sebagai bagian dari Angkatan Laut Amerika Serikat (dalam hubungannya dengan Lockheed Corporation) dalam pengembangan Program rudal kapal selam Polaris; Perhitungan teknik matematis ini kemudian cepat menyebar ke perusahaan-perusahaan swasta untuk diterapkan. Dalam waktu yang sama, model penjadwalan-proyek juga sedang dikembangkan, teknik menghitung biaya proyek, manajemen biaya, dan ekonomi teknik terus berkembang, dengan kepeloporannya oleh Hans Lang dan lain-lain.
Pada tahun 1956, American Association of Cost Engineers (AACE), yang sekarang disebut AACE Internasional; Asosiasi Internasional untuk ahli Teknik Biaya yang pada awalnya dibentuk oleh praktisi manajemen proyek dan spesialisasi terkait dengan perencanaan dan penjadwalan, perkiraan biaya , dan pengenadalian jadwal proyek (Pengendali Proyek – Project Control).
Pada tahun 1967, International Project Management Association (IPMA) didirikan di Eropa, sebagai sebuah federasi dari beberapa asosiasi manajemen proyek nasional. IPMA memelihara struktur federal hari ini dan sekarang termasuk asosiasi anggota pada setiap benua kecuali Antartika.
Pada tahun 1969, Project Management Institute (PMI) dibentuk di Amerika Serikat.PMI menerbitkan buku Panduan yang sering disebut dengan PMBOK Guide (Project Management Body of Knowledge Guide), yang menggambarkan praktek manajemen proyek yang umum untuk “hampir semua proyek dan hampir semua waktu”. Saat ini PMI telah menyempurnakan PMBOK dengan keterbitkannya edisi ke-5 dengan tambahan stakeholder management.
Di Indonesia, Manajemen Proyek berkembang pada era tahun 1970-1990 an diawali dengan semakin banyaknya berkembang proyek-proyek infrastruktur yang banyak memerlukan profesional di bidang Manajemen Proyek. Salah satunya yang berdiri pertama kali adalah Project Management Institut Chapter Jakarta (yang sekarang disebut PMI – Indonesia). PMI Indonesia didirikan pada tahun 1996 dan merupakan organisasi yang didedikasikan untuk meningkatkan, konsolidasi dan penyaluran manajemen proyek Indonesia dan bekerja untuk pengembangan pengetahuan dan keahlian untuk kepentingan semua stakeholder.
Keuntungan Manajemen Proyek
1.      Kontrol yang lebih baik di bidang keuangan, fisik, dan sdm. Dengan adanya kontrol yang baik dalam bidang keuangan, fisik, dan sdm membuat suatu organisasi menjadi lebih teratur dan bisa mendapat keuntungan yang lebih baik bagi organisasi tersebut serta manajemen proyek yang lebih terarah pada tujuannya.
2.      Meningkatnya relasi dengan customer.Meningkatnya relasi dengan customer juga memberikan keuntungan bagi suatu organisasi. Dengan meningkatnya relasi dengan customer maka meningkat pula rasa kepercayaan customer dengan organisasi tersebut.
3.      Waktu pembangunan yang lebih singkat. Dengan waktu pembangunan yang cepat memberikan keuntungan bagi organisasi.
4.      Biaya yang lebih rendah. Dengan biaya yang lebih rendah maka suatu organisasi tidak membutuhkan biaya yang banyak.
5.      Kualitas lebih tinggi & meningkatnya reliabilitas.
6.      Keuntungan yang lebih besar.
7.      Meningkatnya produktivitas.
8.      Koordinasi yang lebih baik.
9.      Moral pekerja lebih baik.
Pengertian Proyek
Proyek adalah sebuah kegiatan yang bersifat sementara yang telah ditetapkan awal pekerjaannya dan waktu selesainya (dan biasanya selalu dibatasi oleh waktu, dan seringkali juga dibatasi oleh sumber pendanaan), untuk mencapai tujuan dan hasil yang spesifik dan unik, dan pada umumnya untuk menghasilkan sebuah perubahan yang bermanfaat atau yang mempunyai nilai tambah. Proyek selalu bersifat sementara atau temporer dan sangat kontras dengan bisnis pada umumnya (Operasi-Produksi), dimana Operasi-Produksi mempunyai sifat perulangan (repetitif), dan aktivitasnya biasanya bersifat permanen atau mungkin semi permanen untuk menghasilkan produk atau layanan (jasa/servis).
Pengertian Manajemen Proyek
Manajemen proyek adalah yaitu suatu metode pengelolaan yang dikembangkan secara ilmiah dan intensif sejak pertengahan abad ke-20 untuk menghadapi kegiatan khusus yang berbentuk proyek. Hal ini merupakan usaha agar tujuan kegiatan dapat tercapai secara efisien dan efektif.
Efektif dalam hal ini adalah di mana hasil penggunaan sumber daya dan kegiatan sesuai dengan sasarannya yang meliputi kualitas, biaya, waktu, dan lain-lainnya. Sedangkan efisien diartikan penggunaan sumber daya dan pemilihan sub-kegiatan secara tepat yang meliputi jumlah, jenis, saat penggunaan sumber lain dan lain-lain. Oleh sebab itu, manajemen proyek pada suatu proyek konstruksi merupakan suatu hal yang tidak dapat diabaikan begitu saja. Karena tanpa hal ini, konstruksi akan sulit berjalan sesuai dengan harapan baik berupa biaya, waktu maupun kualitas.
Kendala – Kendala Manajemen Proyek
1.      Cost (Biaya)
Semua proyek memiliki bujet yang terbatas. Tim proyek harus memperhitungkan biaya proyek secara terperinci. Jika tim proyek mengurangi biaya proyek, maka akan berdampak pada pengurangan ruang lingkup, percepatan waktu pengerjaan, peningkatan risiko, penurunan kualitas suatu produk atau layanan yang dihasilkan, dan kebutuhan sumber daya yang akan digunakan semakin sedikit. Biaya menjadi salah satu faktor sebuah proyek yang memiliki potensi resiko tinggi. Proyek dilaksanan dengan biaya yang telah disepakati oleh penyandang dana yang harus digunakan untuk mencover seluruh pembiayaan proyek. Manajer proyek harus memperkirakan dan mendistribusikan ke setiap aktivitas proyek yang membutuhkan dana dan mengendalikan agar realisasi biaya yang digunakan tidak melebihi dari yang telah direncanakan.
2.      Time (Waktu)
Tim proyek harus memperhitungkan waktu dalam pengerjaan suatu proyek secara terperinci karena setiap proyek memiliki batas waktu penyelesaian. Proyek dilaksanakan dengan memperhatikan waktu penyerahan produk atau hasil akhir sesuai kesepakatan pihak-pihak yang berkepentingan. Keberhasilan dari sebuah proyek dapat diukur dari ketepatan waktu sesuai yang telah direncanakan. Penyelesaian yang terlambat akan berdampak buruknya kredibelitas pelaksana proyek dimata user atau pemberi proyek, karena bagi user proyek tersebut bisa mempengaruhi aktivitas organisasi. Sehingga waktu merupakan faktor yang sangat penting dari sebuah proyek.
3.      Scope (Ruang Lingkup).
Ruang lingkup menyatakan batasan pekerjaan yang perlu diselesaikan dalam sebuah proyek. Ruang lingkup memberi gambaran sejauh mana yang menjadi tanggung jawab pelaksana proyek dan hasil-hasil yang harus dilaporkan atau diserahkan kepada pemberi proyek. Banyak proyek gagal karena ruang lingkup yang tidak terdefenisi secara jelas dari awal dimulainya suatu proyek sehingga berpotensi terjadinya penambahan ruang lingkup proyek. Akibatnya, terjadi penambahan biaya dan berpotensi proyek mengalami keterlambatan. Sumber daya bisa saja bertambah dengan kurang memperhatikan risiko-risiko yang mungkin terjadi sehingga berdampak pada penurunan kualitas dari proyek itu sendiri.
4.      Risk (Risiko)
Setiap proyek pasti memiliki risiko. Sebisa mungkin setiap risiko yang ada diminimalkan. Semakin minim risiko yang diinginkan dari suatu proyek, maka semakin besar biaya yang dikeluarkan dan semakin lama waktu pengerjaan proyek. Seiring dengan itu, ruang lingkup akan semakin bertambah.
5.      Quality (Kualitas)
Kualitas menjadi kriteria yang ditetapkan bersama antara pemberi dan penerima proyek untuk dicapai oleh pelaksanan proyek sebagai standar kualitas dari produk yang dihasilkan. Berdasarkan standar kualitas pelaksana proyek berusaha untuk menetapkan target-target yang harus dipenuhi dari setiap tahap pelaksanaan proyek. Empat komponen dari proyek tersebut diatas menjadi faktor yang saling mempengaruhi. Sebagai contoh, untuk menghasilkan kualitas yang lebih tinggi maka perlu menaikkan biaya, atau dengan pengurangan ruang lingkup, jika menginginkan waktu penyelesaian proyek dipercepat maka perlu biaya yang lebih besar, dan sebagainya. Menentukan keberhasilan penyampaian dari suatu proyek. Kualitas proyek yang baik ditentukan oleh analisis risiko yang baik, ketersediaan sumber daya manusia yang handal dan memadai, kesesuaian ruang lingkup yang sudah didefenisikan bersama pemangku kepentingan, kesesuaian dengan bujet, dan tepat waktu penyelesaian proyek.
6.      Resources (Sumber Daya)
Merupakan hal penting dalam mengelola suatu proyek. Tanpa sumber daya yang berkualitas dan memadai, suatu proyek akan sulit memenuhi kualitas yang baik. Begitu juga waktu penyelesaian suatu proyek akan cenderung berpotensi mengalami keterlambatan. Analisis risiko suatu proyek bukan lagi menjadi prioritas.
Kerangka Kerja Manajemen Proyek dan area Knowledge manajemen Proyek
Area Knowledge Manajemen Proyek
Lingkup pengetahuan manajemen proyek (project management knowledge area) sering pula disebutdengan elemen manajemen proyek (the element of project management) adalah cakupan bahasan atau bidang pengetahuan yang terdapat di dalam manajemen proyek, Tentunya bidang pengetahuan yang berkaitan dengan manajemen.
Elemen atau knowledge area yang dimaksud terdiri atas 9 macam, yaitu:
1.      Project Scope Management atau manajemen ruang lingkup
2.      Project Time Management atau manajemen waktu
3.      Project Cost Management atau manajemen biaya
4.      Project Human Resource Management atau manajemen sumber daya manusia
5.      Project Risk Management atau manajemen resiko
6.      Project Communication Management atau manajemen komunikasi
7.      Project Quality Management atau manajemen mutu
8.      Project Procurement Management atau manajemen pengadaan
9.      Project Integration Management atau manajemen integrasi
pert 3
Disini saya akan menjelaskan tentang Procure Manajemen, Communication Manajemen, dan Project Integration Management, karena kalau Scope Manajemen, Time Manajemen, Cost Manajement, Quality Manajement, Human Resource Manajemen sudah dijelaskan di kendala – kendala manajamen proyek.
Procure Manajemen
Merupakan bagian dari proses manajemen proyek di mana produk atau jasa yang diperoleh atau dibeli dari luar basis karyawan yang ada (yang akan bekerja pada proyek) dalam rangka untuk menyelesaikan tugas atau proyek.
Ada 4 proses dalam procurement management yaitu :
1.      Plan Procurement, Proses menentukan apa yang dibutuhkan, kapan dibutuhkan dan bagaimana proses pengadaannya. Dalam perencaan ini harus diputuskan apa yang harus diambil dari luar, tipe kontrak dan menggambarkan kerja yang harus dilakukan oleh distributor kelak
2.      Conduct Procurement, proses mendapatkan respon seller, memilih seller, dan pemberian kontrak.
3.      Control Procurement, Proses mengelola procurement relationship , monitoring contracts performance, dan membuat perubahan dan perbaikan sesuai dengan kebutuhan.
4.      Close Procurement, Proses menyelesaikan setiap proyek pengadaan. Mendukung close project atau Phase project karena melibatkan verifikasi bahwa semua pekerjaan dan deliverable sudah diselesaikan
Communication Manajemen
Merupakan sebuah proses pengembangan pendekatan yang paling sesuai dalam komunikasi di sebuah proyek dengan didasari pada kebutuhan informasi masing-masing stakeholder dan informasi serta asset-aset organisasi yang tersedia.
Project Communication Management memiliki 3 bagian utama yaitu:
1.      Plan Communication Management, Proses pengembangan pendekatan yang tepat dan rencana proyek komunikasi berdasarkan kebutuhan informasi dan persyaratan stakeholder, dan aset organisasi yang tersedia.
2.      Manage Communication, Proses untuk membuat, mengumpulkan, mendistribusi, menyimpan, mengembalikan dan penempatan dari informasi proyek berdasarkan communication management plan.
3.      Control Communication, proses monitoring dan pengendalian komunikasi di seluruh siklus proyek untuk memastikan kebutuhan informasi dari para stakeholder proyek terpenuhi.
Project Integration Management
kumpulan aktivitas dan proses yang diperlukan untuk mengidentifikasi, mendefinisi, mengkombinasi, menyatukan dan mengkoordinasi berbagai proses dan aktivitas manajemen proyek dalam suatu proses yang berkesinambungan.
Project Integration Management terdiri dari:
1.      Develop Project Charter, Dokumen proyek yang mendefinisikan ruang lingkup, tujuan, dan stakeholder dalam sebuah proyek.
2.      Develop Project Management Plan, Dokumen yang dapat digunakan untuk mengkoordinasikan semua dokumen perencanaan proyek.
3.      Direct and manage Project Work, Proses menjalankan pekerjaan yang telah didefinisikan dalam project management plan dalam rangka memenuhi tujuan dari proyek.
4.      Monitor and Control Project Work, Suatu tindakan yang saling timbal balik jadi saat kita melakukan tugas monitoring proyek pasti kita juga akan melakukan tugas controling terhadap proyek yang sedang kita jalankan.
5.      Perform Integrated Change Control, Proses meninjau kembali semua permintaan perubahan yang terjadi dalam keputusan di dalam sebuah proyek seperti dalam organizational process asset dan project management plan.
6.      Close Project or Phase, Proses penyelesaian seluruh aktivitas dalam pengembangan proyek yang telah dikerjakan.
Alat dan teknik manajemen proyek
Alat  bantu  dan  tehnik  manajemen  proyek membantu manajer proyek dan timnya dalam berbagai aspek manajemen proyek. Alat bantu dan tehnik spesifik: Carta  Proyek,  pernyataan  lingkup,  dan  WBS (lingkup). Gantt  chart,  diagram  jaringan,  analisis  jalur kritis, penjadwalan rantai kritis (waktu). Estimasi biaya dan earned value management (biaya).
Hubungan manajemen proyek dengan disiplin ilmu lain
Sebagian besar pengetahuan yang dibutuhkan untuk mengelola proyek yang unik atau hampir unik untuk manajemen proyek (misalnya: analisis jalur kritis dan struktur kerja rincian). Namun PMBOK tidak tumpang tindih dengan disiplin manajemen yang lainnya
manajemen umum meliputi perencanaan, pengorganisasian, staf, melaksanakan, dan mengendalikan operasi perusahaan berlangsung. Manajemen umum juga termasuk mendukung disiplin ilmu seperti pemrograman computer, hukum, statistic dan teori probabilitas,logistic dan personel. PMBOK ini tumpang tindih manajemen umum di banyak daerah- prilaku organisasi, peramalan keuangan, dan teknik perencanaan
Daerah aplikasi adalah kategori proyek yang memeiliki elemen umum yang signifikan dalam proyek tsb namun tidak dibutuhkan hadir dalam semua proyek. Daerah aplikasi didefinisikan dalam hal Teknis elemen, seperti pengembangan perangkat lunak, farmasi atau teknik kontruksi.Manajemen elemen, seperti kontrak pemerintah atau pengembangan produk baru. Industry kelompok, seperti otomotif, kimia, atau layanan keuangan
Bagan Gantt
Gantt Chart adalah sejenis grafik batang (Bar Chart) yang digunakan untuk menunjukan Tugas-tugas pada Proyek serta Jadwal dan waktu pelaksanaannya, seperti waktu dimulainya tugas tersebut dan juga batas waktu yang digunakan untuk menyelesaikan tugas yang bersangkutan. Orang atau Departemen yang ditugaskan untuk menyelesaikan Tugas dalam proyek juga harus dituliskan dalam Gantt  Chart.
Hasil gambar untuk bagan gantt diagram network alat manajemen proyek enterprise
Diagram Network
network diagram merupakan salah satu dari tujuh alat perencanaan manajemen (7 management and planning tools) atau 7 New Quality Tools sehingga dalam businessdictionary.com disebutkan bahwa activity network diagram adalah salah satu alat manajemen kualitas
Hasil gambar untuk diagram network proyek adalah
Alat manajemen proyek enterprise
Profesi dan sertifikasi manajemen proyek
Sertifikasi Keahlian Manajemen Proyek
Sertifikasi keahlian manajemen proyek dilaksanakan oleh berbagai bebagai organisasi profesi nasional maupun global. Di Indonesia, sertifikasi keahlian manajemen proyek dilaksanakan oleh Ikatan Ahli Manajemen Proyek Indonesia (IAMPI). Di Amerika Serikat, dan berlangsung secara global, diselenggarakan oleh Project Management Institute (PMI), di Australia ada AIPM, di Inggris ada IPM, serta organisasi profesi di berbagai negara.
Sertifikasi PMI
Sertifikasi yang diselenggarakan oleh Project Management Institute (PMI) dinamakan Project Management Professional (PMP) Certification, didasarkan pada standar proses pengelolaan proyek, sesuai dengan Project Management Body of Knowledge (PMBOK®) yang dipublikasikan oleh PMI. Dari catatan diketahui bahwa sejak tahun 1984 sertifikasi PMP merupakan sertifikasi yang paling banyak diikuti secara global dibanding dengan sertifikasi yang lainnya. Sertifikat PMP merupakan sertifikat yang telah diakui secara global, pemegangnya didorong untuk tetap aktif dalam kegiatan manajemen proyek dengan memenuhi beberapa ketentuan sesuai PMI’s Continuing Certification Requirements (CCRs). Dengan sistem ini hanya mereka yang masih aktif sertifikatnya yang boleh menyatakan dirinya sebagai Project Management Professional (PMP). Untuk mendapatkan sertifikat PMP, seseorang tidak perlu menjadi anggota PMI.
Etika dalam manajemen proyek
etika profesi insinyur Indonesia yang dibuat oleh Persatuan Insinyur Indonesia dapat menjadi acuan dalam pembahasan masalah pada topik kali. Berikut adalah kode etik Insinyur PII
http://manajemenproyekindonesia.com/wp-content/uploads/2015/05/Kode-Etik-PII.png
Manajemen Proyek software
Manajemen Proyek Software adalah aktifitas dalam memanajemen rekayasa perangkat lunak, dimulai sebelum aktifitas teknis di inisialisasi dan berlanjut pada keseluruhan batasan, perkembangan dan pemeliharaan perangkat lunak komputer serta controlling dengan menggunakan resource yang ada untuk membuat perangkat lunak dalam jangka waktu tertentu untuk memenuhi kebutuhan.
Tujuan Manajemen Proyek software adalah untuk menyediakan sebuah kerangka kerja yang memungkinkan manajer membuat estimasi yang dapat dipertanggung jawabkan mengenai sumber daya, biaya dan jadwal. Estimasi dibuat dengan sebuah kerangka waktu yang terbatas pada awal sebuah proyek perangkat unak dan seharusnya diperbarui secara teratur selagi proyek sedang berjalan. Sebagai tambahan, estimasi akan berusaha mendefinisikan scenario kasus terbaik dan kasus terburuk. Tujuan perencanaan dicapai melalui suatu proses penemuan informasi yang menuju ke estimasi yang dapat diprtanggung jawabkan.
Hal-hal yang terlibat didalam Manajemen Proyek antara lain yaitu durasi (time frame), tenaga kerja (work force), tugas pekerjaan (task), resiko (risk), portfolio, dan kolaborasi (collaboration).


M2. Konteks Manajemen Proyek dan TI

Model dari system management
Basis Model Berisi model statistik, keuangan, pengetahuan managemen atau model quantitatif lain yang menyediakan kemampuan analisa seperti mencari, menjalankan, menggabungkan memeriksa model.
Dilihat dari tingkat manajemen penggunanya, model dalam basis model dibedakan menjadi 4, yaitu :
a. Model stratejik, Mendukung tanggung jawab perencanaan strategik dari top management
Contoh : Pengembangan perusahaan, pemilihan lokasi pabrik, perencanaan merjer
b. Model taktikal, Digunakan oleh manajemen tingkat menengah dalam membantu pengalokasian dan pengontrolan sumber daya organisasi
Contoh : Perencanaan kebutuhan tenaga kerja, pembelajaran rutin, dll
c. Model Operasional, Mendukung manajemen level bawah untuk pelaksanaan aktivitas sehari-hari dalam cakupan waktu yang singkat
d. Model Building Block, Model ini merupakan model yang akan digunakan untuk membangun model yang lain.
Contoh: Analisis Regresi, penghitungan NPV, dll
Organisasi dan struktur dasar organisasi pada proyek
Untuk suksesesnya suatu proyek diperlukan struktur organisasi yang sesuai. Struktur organisasi adalah jalur utama koordinasi, delegasi, dan komunikasi dalam suatu proyek. Dalam Manajemen Proyek secara garis besar, terdapat dua tipe struktur organisasi :
I. Organisasi Fungsional (Functional Organization)
Organisasi Fungsional adalah tipe struktur organisasi manajemen proyek dimana seorang manajer/pimpinan proyek berkoordinasi dengan manajer-manajer operasional (manajer lini) dalam suatu perusahaan. Manajer lini adalah seseorang yang bertanggung jawab terhadap bagian tertentu. Misalnya, manajer keuangan, manajer pemasaran, manajer IT, dll. Manajer lini membawahi beberapa staf operasional.
Dalam tipe ini komunikasi dan koordinasi antara anggota proyek sangatlah terbatas. Pendelegasian tugas, koordinasi, dan komunikasi dilakukan melalui manajer lini.
Dalam tipe struktur organisasi fungsional ini sangatlah mungkin seorang manajer lini terlibat dalam lebih dari satu proyek. Dan dalam tipe ini seorang staf sangat mungkin diberikan tugas terkait suatu proyek tanpa mengetahui apa proyek yang sedang berjalan itu.
Terhadap struktur organisasi fungsional ini, penempatan koordinator proyek terbagi atas tiga jenis, yang masing-masing memiliki kewenangan yang berbeda :
·        Lemah (Weak Matrix Organization)
Weak Matrix Organization
1.      Kewenangan terbesar ada pada manajer lini
2.      Manajer lini menjadi asisten dari koordinator proyek
3.      Koordinator proyek mengatur jadwal dan progress, tetapi tidak memiliki kewenangan dalam pengambilan keputusan

·        Seimbang (Balanced Matrix Organization)
Balanced Matrix Organization
1.      Terdapat posisi khusus untuk seorang koordinator proyek (manajer proyek)
2.      Manajer proyek memiliki kewenangan dalam mengambil keputusan
3.      Manajer proyek mengatur tim agar berjalan sesuai ruang lingkup, jadwal, dan budget

·        Kuat (Strong Matrix Organization)
Strong Matrix Organization
1.      Manajer proyek memiliki otoritas dan tanggung jawab yang lebih besar namun masih terbatas
2.      Manajer proyek tetap tidak dapat mengambil seluruh keputusan
II. Organisasi Proyek (Projectized Organization)
Organisasi Proyek adalah suatu pengelolaan struktur organisasi yang didasarkan pada proyek. Dalam struktur Organisasi Proyek ini, seoarang koordinator proyek memiliki otoritas dan tanggung jawab penuh. Koordinator proyek memiliki tim khusus. Tim ini hanya mengerjakan satu proyek saja. Pada Organisasi Proyek, seorang koordinator proyek berperan sebagai manajer tim.
Manakah Yang Lebih Baik?
Jika ditanyakan mana struktur organisasi yang lebih baik untuk digunakan dalam menjalankan suatu proyek? Jawabannya: tergantung kondisinya. Karena masing-masing struktur tersebut memiliki tempatnya tersendiri. Memiliki kelebihan dan kekurangan. Mari kita bahas satu per satu.
Organisasi fungsional lebih hemat biaya karena anggota tim adalah staf operasional, bukan staf khusus proyek. Tetapi dari sisi waktu, organisasi fungsional membutuhkan waktu eksekusi yang lebih lama untuk menyelesaikan proyek karena anggota tim memiliki pekerjaan rutin operasional. Dan pekerjaan operasional ini juga membuat anggota tim tidak bisa fokus akan suatu proyek.
Organisasi Proyek memiliki kelebihan dari sisi kecepatan eksekusi proyek. Ini dikarenakan anggota tim hanya fokus mengerjakan satu proyek saja. Tentunya hal ini berdampak terhadap biaya. Biaya yang dibutuhkan menjadi lebih besar untuk membiayai anggota tim.
Komitmen stakeholder dan top manajemen dalam proyek TI
Stakeholder Management
Stakeholder adalah orang-orang yang terlibat dan berpengaruh dalam kegiatan proyek. Terdapat dua stakeholder yaitu internal dan eksternal. Stakeholder proyek internal umumnya termasuk sponsor proyek, tim proyek, staf pendukung, dan pelanggan internal untuk proyek tersebut. Stakeholder internal lainnya termasuk manajemen puncak, manajer fungsional lainnya, dan manajer proyek lainnya. Karena organisasi memiliki sumber daya yang terbatas, proyek mempengaruhi manajemen puncak, manajer fungsional lainnya, dan manajer proyek lainnya dengan menggunakan sumber daya. Jadi, sementara para stakeholder internal tambahan mungkin tidak terlibat langsung dalam proyek, mereka masih stakeholder karena proyek mempengaruhi mereka dalam beberapa cara. Stakeholder proyek eksternal termasuk pelanggan proyek (jika mereka luar organisasi), pesaing, pemasok, dan kelompok eksternal lainnya yang berpotensi terlibat dalam proyek atau terpengaruh oleh itu, seperti pejabat pemerintah atau warga negara yang bersangkutan. Karena tujuan manajemen proyek adalah untuk memenuhi persyaratan proyek dan memuaskan stakeholder, sangat penting bahwa manajer proyek mengambil waktu yang cukup untuk mengidentifikasi, memahami, dan mengelola hubungan dengan semua stakeholder proyek. Dengan menggunakan 4 kerangka organisasi diatas akan dapat membantu anda untuk berfikir tentang stakeholder proyek dalam memenuhi kebutuhan mereka.
Pentingnya Komitmen Top Manajemen
Orang - orang yang berada di manajamen puncak adalah kunci kesuksesan sebuah proyek. Sebuah faktor yang sangat penting dalam membantu manajer proyek berhasil memimpin proyek adalah tingkat komitmen dan dukungan yang mereka terima dari manajemen puncak. Tanpa komitmen ini, banyak proyek akan gagal. Beberapa proyek memiliki manajer senior yang disebut juara yang bertindak sebagai pendukung utama untuk sebuah proyek. Beberapa penelitian menyebutkan dukungan eksekutif sebagai salah satu faktor kunci yang terkait dengan hampir semua keberhasilan proyek. Komitmen manajemen puncak sangat penting untuk manajer proyek untuk alasan berikut:
1.      Manajer proyek membutuhkan sumber daya yang memadai. Cara terbaik untuk sukses dalam proyek adalah untuk menahan uang yang diperlukan, sumber daya manusia, dan visibilitas. Jika manajer proyek memiliki komitmen manajemen puncak, mereka juga akan memiliki sumber daya yang memadai dan tidak terganggu oleh peristiwa yang tidak mempengaruhi proyek-proyek khusus mereka.
2.      Proyek manajer sering membutuhkan persetujuan untuk kebutuhan proyek yang unik pada waktu yang tepat. Sebagai contoh, pada proyek-proyek TI besar, manajemen puncak harus memahami bahwa masalah tak terduga mungkin timbul dari sifat produk yang dikembangkan dan keterampilan khusus dari orang-orang di tim proyek. Tim mungkin perlu hardware tambahan dan software setengah jalan melalui proyek untuk pengujian yang tepat, atau manajer proyek mungkin perlu untuk menawarkan gaji khusus dan manfaat untuk menarik dan mempertahankan kunci personel dalam proyek. Dengan komitmen manajemen puncak, manajer proyek dapat memenuhi kebutuhan ini.
3.      Manajer proyek harus memiliki kerjasama dari orang-orang di bagian lain dari organisasi. Karena sebagian besar proyek TI melintasi area fungsional, manajemen puncak harus membantu manajer proyek dengan isu-isu politik yang sering muncul. Jika manajer fungsional tertentu tidak menanggapi permintaan proyek manajer untuk informasi yang diperlukan, manajemen puncak harus turun tangan untuk mendorong manajer fungsional untuk bekerja sama.
4.      Manajer proyek sering membutuhkan seseorang untuk membimbing dan melatih mereka tentang isu-isu kepemimpinan. Banyak manajer proyek TI berasal dari posisi teknis dan tidak berpengalaman sebagai manajer. Manajer senior harus meluangkan waktu untuk memberikan saran tentang bagaimana menjadi pemimpin yang baik. Mereka harus mendorong manajer proyek baru untuk mengambil kelas untuk mengembangkan keterampilan kepemimpinan dan mengalokasikan waktu dan dana bagi manajer untuk melakukannya.
Phase dan siklus hidup proyek
Siklus hidup proyek adalah kumpulan dari fase proyek. Secara umum, siklus hidup proyek mendefinisikan apa pekerjaan yang akan dilakukan di setiap tahap, kiriman apa dan kapan akan diproduksi, yang terlibat dalam setiap fase, dan bagaimana manajemen akan mengontrol dan menyetujui karya yang dihasilkan di setiap tahap. Sebuah penyampaian adalah produk atau layanan, seperti laporan teknis, sesi pelatihan, hardware, atau segmen kode software, diproduksi atau disediakan sebagai bagian dari proyek. Dalam fase awal dari siklus hidup proyek, kebutuhan sumber daya biasanya terendah dan tingkat ketidakpastian tertinggi. stakeholder proyek memiliki kesempatan terbesar untuk mempengaruhi karakteristik akhir dari produk proyek, jasa, atau hasil selama fase awal dari siklus hidup proyek. Hal ini jauh lebih mahal untuk membuat perubahan besar untuk proyek selama fase terakhir. Selama fase
tengah siklus hidup proyek, kepastian menyelesaikan proyek membaik karena terus, dan informasi lebih yang diketahui tentang persyaratan proyek dan tujuan. Juga, lebih banyak sumber daya biasanya dibutuhkan daripada selama fase awal atau akhir. Tahap akhir dari proyek berfokus pada memastikan bahwa kebutuhan proyek bertemu dan sponsor proyek menyetujui penyelesaian proyek. Gambar diatas menyediakan kerangka kerja ringkasan untuk fase umum tradisional siklus hidup proyek. Pada tahap konsep proyek, manajer biasanya mengembangkan beberapa jenis dari kasus bisnis, yang menggambarkan kebutuhan untuk proyek dan konsep yang mendasar. Perkiraan biaya awal atau kasar dikembangkan di tahap pertama ini, dan gambaran pekerjaan yang diperlukan dibuat. Sebuah struktur rincian kerja (WBS) menguraikan pekerjaan proyek dengan menguraikan aktivitas kerja ke dalam berbagai tingkat tugas. WBS merupakan dokumen deliverable oriented yang mendefinisikan ruang lingkup total proyek. Setelah tahap konsep selesai, proyek berikutnya fase pengembangan-dimulai. Pada tahap pengembangan, tim proyek menciptakan manajemen proyek yang lebih rinci rencana, perkiraan biaya yang lebih akurat, dan WBS lebih menyeluruh. Tahap ketiga dari siklus hidup proyek tradisional adalah implementasi. Pada fase ini, tim proyek menciptakan perkiraan biaya definitif atau sangat akurat, memberikan pekerjaan yang diperlukan, dan memberikan laporan kinerja kepada stakeholder. Tahap terakhir dari siklus hidup proyek tradisional adalah fase close-out. Di dalamnya, semua pekerjaan selesai, dan pelanggan harus menerima seluruh proyek. Tim proyek harus mendokumentasikan pengalaman pada proyek dalam laporan pelajaran-belajar.
Siklus hidup produk
Siklus hidup pengembangan sistem (SDLC) adalah suatu kerangka kerja untuk menggambarkan fase mengembangkan sistem informasi. Beberapa model populer dari SDLC termasuk Waterfall Model, Spiral Modal, incremental Model, Prototyping Model, dan Rapid Application Development (RAD) Model. Berikut adalah penjelasan singkat dari beberapa model SDLC prediksi:
1.      Waterfall Model: Segala kebutuhan harus ditetapkan diawal secara lengkap. Jika terjadi perubahan maka harus mengulang dari awal. Maka dari itu model ini cocok untuk proyek yang berskala besar.
2.      Spiral Model: Model ini adalah perkembangan dar model waterfall. Cocok untuk proyek yang membutuhkan banyak revisi. Model ini bersifat terbuka.
3.      Prototyping Model: Model ini bertujuan untuk lebih memperjelas kebutuhan pengguna secara operasional. Pengembangan model ini menghasilkan persyaratan fungsional dan spesifikasi desain fisik secara bersamaan.
4.      The RAD Model: Seperti halnya prototype, namun model ini membutuhkan keterlibatan pengguna untuk membantu menghasilkan sistem dengan cepat tanpa mengormbankan kualitas.
Konteks dari proyek IT
Terdapat tiga konteks pemahaman dalam sebuah kerangka proyek, yaitu :
1.      Tujuan Manajemen Proyek, tujuan manajemen proyek TI mencakup empat komponen yaitu ruang lingkup, biaya, kualitas dan waktu. Ukuran keberhasilan proyek apabila ruang lingkupnya tercapai , kualitasnya terpenuhi, selesai sesuai jadwal dan menggunakan dana sesuai dengan yang disediakan.
2.      Proses manajemen proyek, manajemen proyek TI mengacu pada fase-fase pelaksanaan proyek yang mencakup  fase inisiasi proyek, perencanaan proyek, pelaksanaan proyek, pengendalian proyek dan penyerahan proyek.
3.      Pengetahuan manajemen proyek. Area pengetahuan (Knowledge area) yang diperlukan dalam mengelola sebuah proyek, terdapat delapan aspek pengetahuan yaitu manajemen ruang lingkup, manajemen kualitas, manajemen waktu, manajemen biaya, manajemen komunikasi, manajemen sumberdaya manusia, manajemen resiko dan manajemen pengadaan.
Ketiga konteks tersebut merupakan satu kesatuan dalam memahami proyek dan menyatu dalam manajemen proyek terintegrasi (Integrated Project Management).
Fungsi kerja manajemen proyek
Berikut beberapa ulasan singkat tentang fungsi manajemen proyek
1.      Pelingkupan | Scooping – menjelaskan mengenai batas batas dari sebuah proyek
2.      Perencanaan | Planning – menidentifikasi tugas apa saja yang dibutuhkan dalam menyelesaikan sebuah proyek.
3.      Perkiraan | Estimating – setiap tugas yang dibutuhkan dalam penyelesaian sebuah proyek harus diperkirakan
4.      Penjadwalan | Scheduling – seorang manajer proyek harus bertanggung jawab atas penjadwalan seluruh kegiatan suatu proyek
5.      Pengorganisasian | Organizing – seorang manajer proyek memastikan bahwa seluruh anggota tim dari sebuah proyek mengetahui peran serta tanggung jawab masing masing dan hubungan laporan mereka kepada manajer proyek.
6.      Pengarahan | Directing – mengarahkan seluruh kegiatan kegiatan tim dalam proyek
7.      Pengontrolan | Controlling – fungsi pengontrolan atau pengendalian ini mungkin saja merupakan fungsi tersulit dan juga terpenting bagi seorang manajer apakah proyek akan berjalan semestinya ataukah tidak
8.      Penutupan | Closing – manajer proyek hendaknya selalu menilai keberhasilan atau kegagalan pada kesimpulan dari sebuah proyek yang dijalani
Keahlian yang disarankan bagi manajer proyek
1.      Leadership (kepemimpinan) Seorang manajer proyek dituntut dapat mengoordinasi dan mengarahkan anggota tim agar apa-apa yang dikerjakan selalu merujuk pada tujuan proyek.
2.      Problem Solving Skills (keahlian memecahkan masalah) Seorang manajer proyek dituntut memiliki keahlian memecahkan semua permasalahan yang terjadi selama proyek berlangsung, baik teknis maupun non teknis.
3.      Writen Skills (keahlian untuk menulis) Seorang manajer proyek harus memiliki kemampuan dalam menulis dalam arti tulisan yang dibuat mudah diinterpretasi, tidak menimbulkan penafsiran ganda. Penulisan disini meliputi : project defenition, project management plan, project monitoring & controlling.
4.      Presentation skills (keahlian melakukan presentasi) Seorang manajer proyek dituntut untuk bisa menuangkan ide-idenya dalam suatu bentuk orasi dan dapat memberikan penjelasan secara simple, lugas dan mudah dimengerti.
5.      Communication skills (kemampuan berkomunikasi) Seorang manajer proyek harus memiliki kemampuan komunikasi yang baik agar dapat dapat mengoordinasi semua anggota tim sesuai dengan tujuan proyek.
6.      Team player skills (keahlian menjalankan tim) Untuk menjalankan tim, seorang manajer proyek harus memiliki kharisma yang tinggi dan berwibawa dan dapat memotivasi orang lain agar mau bekerja guna mencapai tujuan proyek.
7.      Profesionalism (profesionalisme) Seorang manajer proyek harus dapat memilah-milah antara urusan kantor, urusan teman atau sahabat, urusan pribadi, maupun urusan keluarga. Seorang manajer proyek harus bisa membedakan kapan saat bertindak sebagai pimpinan dan kapan berlaku sebagai teman. Seorang manajer harus bisa membagi-bagi masalah kehidupan ke dalam beberapa folder, diantaranya folder pekerjaan, folder teman, folder sosial, folder keluarga dan folder lainnya.
8.      Strong admin skills (kemampuan yang andal)  Tidak semua orang memiliki kecakapan untuk mengatur, meskipun orang tersebut memiliki skill teknis yang tinggi. Kemapuan untuk mengatur orang lebih bersifat manajerial, lebih bersifat seni dan psikologi. Oleh karenanya tidak menjamin bahwa seseorang dengan kemampuan teknis yang tinggi bisa mengatur orang atau tim yang dia pimpin. Kemampuan  ini lebih banyak diperoleh di lapangan.
9.      Knowledge of project management (pengetahuan tentang manajemen proyek) Selain kemampuan di atas seorang manajer proyek harus memiliki pengetahuan tentang manajemen proyek.
Karakteristik dari manajer proyek yang efektif
1.      Pemikir Sistem, kemampuan dalam berpikir untuk mengelola interaksi antar komponen dan sumber daya proyek yang berbeda-beda, karena tidak bisa dikatakan efektif apabila penyelesaian masalah hanya secara parsial. Hal ini akan mempersulit sang manajer untuk mengambil keputusan.
2.      Integritas Pribadi, membangun dan meningkatkan kemampuan diri menjadi sangat penting dilakukan terlebih dahulu sebelum meningkatkan kemampuan anggota tim.
3.      Proaktif, bedakan dengan reaktif. Para manajer proyek dituntut tidak hanya akan melihat peristiwa yang telah terjadi (reaktif), akan tetapi juga selalu meneropong masa depan dan berjuang keras menemukan masa depan proyek (Kartajaya, 2003)
4.      Toleransi yang tinggi terhadap Stress, mengingat proyek merupakan hal yang rumit dan kompleks, pasti akan menimbulkan tekanan terhadap orang yang bebankan tanggungjawab kepadanya. Manajer proyek harus mampu mengelola kondisi psikologis mereka agar dapat bertahan dalam tekanan.
5.      Perspektif Bisnis Umum, seorang manajer proyek harus memahami dasar-dasar bisnis dari disiplin teknis yang berbeda-beda sebagai kerja antar fungsional.
6.      Politikus Mahir, strategi dalam menghadapi banyak orang dan mendapatkan dukungan dari semua pihak merupakan cirri penting manajer proyek yang sukses.
7.      Optimis, Slater (1999) dalam bukunya Saving Big Blue mengatakan “Anda dalam kesulitan Besar jika Menganggap anda Sudah Selesai”. Maksud dari kata-kata ini ialah, masalah-masalah yang sudah diselesaikan tidak bisa kita lepas begitu saja, karena pada nantinya kan bermunculan masalah-masalah baru di dalam pelaksanaan proyek. Kepercayaan diri terhadap proyek, mampu membuat seorang manajer proyek melakukan inovasi dan mengubah strategi proyek ke arah yang lebih baik tanpa meninggalkan perencanaan yang telah ditetapkan. 
 

M3. Grup Proses Manajemen Proyek : Studi Kasus
Grup Proses Manajemen Proyek
Dalam sebuah manajemen proyek terdapat sejumlah proses yang saling berkaitan antara yang satu dengan yang lainnya. Dan tiap-tiap proses tersebut membentuk suatu grup proses. Dalam Manajemen proyek terdapat 5 grup proses :
a. Inisiasi
Merupakan tahap awal kegiatan proyek sejak sebuah proyek disepakati untuk dikerjakan. Pada tahap ini, permasalahan yang ingin diselesaikan akan diidentifiasi. Beberapa pilihan solusi untuk menyelesaikan permasalahan juga didefinisikan.Sebuah studi kelayakan dapat dilakukan untuk memilih sebuah solusi yang memiliki kemungkinan terbesar untuk direkomendasikan sebagai solusi terbaik dalam menyelesaikan permasalahan. Ketika sebuah solusi telah ditetapkan, maka seorang manajer proyek akan ditunjuk sehingga tim proyek dapat dibentuk dan berakhir ketika manajer proyek diberikan otoritas juga petunjuk untuk memulai perencanaan.
b. Perencanaan Proyek
Mendefinisikan dan merinci tujuan proyek, serta merencanakan aktivitas aktivitas yang dibutuhkan dalam rangka mencapai tujuan proyek itu sendiri dan sesuai batasan yang telah disepakati. Sebuah kerangka gagasan – gagasan dalam menjalankan sebuah manajemen proyek dan demi mensukseskan apa yang menjadi tujuan manajemen proyek itu dibuat.
c. Eksekusi
Sebuah rencana eksekusi suatu proyek sangat erat kaitannya dengan estimasi biaya, dimana keduanya saling bergantung dan tidak akan terpenuhi keduanya secara total jika satu diantara keduanya tidak terselesaikan. Biasanya manager suatu proyek tidak terikat secara langsung dalam sebuah jadwal yang kompleks dari sebuah proyek apalagi jika itu adalah sebuah proyek yang berskala besar.Tapi yang harus disadari seorang manajer proyek harus memastikan bahwa proyek harus berjalan apapun hambatan yang mungkin dihadapi.
d. Kontrol
Mengukur dan memonitor secara berkala kemajuan proyek serta mengidentifikasi adanya penyelewengan pelaksanaan dari rencana yang sudah dibuat sebelumnya.
e. Akhir
Melakukan formalisasi hasil proyek berupa barang atau jasa yang dihasilkan dari proyek.

Hubungan antara grup proses dan area knowledge
Knowledge berperan penting dalam sebuah manajemen proyek terutama dalam pengawasan grup proses manajemen proyek. Dimana grup proses adalah suatu rencana demi kelancaraan proyek agar lebih mudah dalam memulai proyek dan tugas knowledge ialah memonitor segala hal dari berbagai aspek yang terjadi didalam grup proses.

Membangun metodologi manajemen proyek IT
Sebuah perusahaan vendor IT atau vendor apapun yang hidup matinya bergantung pada keberadaan proyek, memiliki masalah yang sama dalam menentukan metodologi apa yang cocok untuk digunakan dalam pengerjaan proyek. Dalam dunia IT lebih dalam lagi akan ada pertanyaan metodologi apa yang cocok untuk pengembangan software atau untuk digunakan sebagai acuan Software Development Life Cycle (SDLC).
Pengalaman membuktikan, tidak adanya kejelasan metodologi yang jelas yang digunakan perusahaan akan membuat proyek berjalan tanpa arah dan akan sangat tergantung dari individu manajer proyeknya. Jika kondisi itu berlangsung pada proyek yang kompleks dan ditangani oleh manajer proyek yang tidak berpengalaman maka akan berakhir pada kegagalan proyek. Bagi orang yang lebih tinggi yaitu atasan dari manajer proyek, hal tersebut akan membuat proyek-proyek tidak bisa dimonitor apalagi dikontrol.
Memilih metodologi proyek memang bukan hal yang mudah. Kita tau ada berbagai macam metodologi mulai yang general, yang bisa diimplementasikan pada proyek apapun seperti PMBOK, PRINCE2 maupun yang spesifik untuk domain tertentu misalnya SWEBOK, XP, Scrum yang digunakan pada proyek development software. Masing-masing metodologi memiliki keuntungan dan kita perlu untuk TIDAK memilih begitu saja satu metodologi karena saya percaya tidak ada metodologi yang “one size fits all.”
Kita dapat mengelaborasikan beberapa metodologi dan membuatnya pesifik untuk perusahaan dengan catatan metodologi tersebut didefinisikan agar sesuai dengan sifat dari proyek-proyek yang ada dan sebisa mungkin masih dapat disesuaikan (tailored) sesuai dengan besarnya proyek.Untuk mengelaborasi metodologi, sebaiknya kita mulai dengan
Studi beberapa metodologi yang sudah ada. Ada baiknya kita membuat listing yang lengkap dari metodologi yang yang sudah ada, mempelajarinya secara high level, kemudian menentukan yang menjadimain interest, lalu melakukan klasifikasi seperti yang dijelaskan sebuah artikel “Defining & Classifying Project Management Methodologies.” Berikut ini gambaran level dari klasifikasi metodologi manajemen proyek dari artikel tersebut.
Ada baiknya perusahaan membuat sebuah referensi metodologi manajemen proyek pada Level 3 (Organization specific, customized methodology). Yang dibuat sedemikian rupa sehingga dapat diadaptasi menjadi L4 maupun L5 sesuai kemampuan manajer proyek.
Sebuah kesimpulan yang menarik terkait pemilihan metodologi ini dapat kita lihat dari artikel “Methodology Per Project”. Menurut penulis artikel tersebut, Alistair Cockburn, metodologi memiliki sepuluh elemen dasar yaitu: roles, skills, activities, techniques, tools, teams, deliverables, standards, quality measures dan project values. Tidak semua metodologi mencakup semua elemen tersebut, semakin besar proyek maka harus semakin besar metodologinya artinya aspek elemen yang dicakup harus semakin lengkap. Hal tersebut bisa dilakukan dengan cara mengelaborasi beberapa metodologi.Lebih jauh lagi.
Inisiasi merupakan tahap pengenalan dalam memulai proyek baru, dan memastikan bahwa pada tahap ini proyek akan dijalankan dengan benar.
JWD Consulting’s Project Management Intranet Site
– Planning
– Executing
– Monitoring and Controlling
– Closing
– Initiating
Inisiasi merupakan tahap pengenalan dalam memulai proyek baru, dan memastikan bahwa pada tahap ini proyek akan dijalankan dengan benar
Input:
·        Mengidentifikasikan pihak-pihak yang berkepentingan
·        Menganalisis kebutuhan yang diperlukan dalam membangun proyek
·        Memperkirakan resiko-resiko yang akan muncul
Output: 
·        Project charter terselesaikan dan disepakati
·        Terpilihnya Manajer Proyek
·        Teridentifikasinya pihak-pihak yang berkepentingan
·        Business case terselesaikan
– Planning
Tujuan utama dari perencenaan proyek adalah untuk memandu pelaksanaan proyek
Input:
    Berupa output dari proses inisiasi sebelumnya
Output: 
·        Ditentukannya lingkup proyek
·        Adanya kontrak tim
·        Adanya WBS
·        Scheduled Project terbentuk
·        Adanya daftar dari resiko yang diprioritaskan
– Executing
Proses executing proyek diperlukan untuk memastikan bahwa aktifitas dalam perencanaan proyek terpenuhi
Input:
    Berupa output dari proses perencanaan (planning)
Output: 
·        Mengimplementasikan solusi dari masalah-masalah yang ada
·        Mengetahui data performansi kerja dari tim
·        Perencanaan Manajemen Proyek (diperbaharui)
·        Terkualifikasinya daftar penjual
– Monitoring and Controlling
Monitoring and Controlling merupakan pengukuran dan pemantauan perkembangan secara berkala akan tujuan proyek untuk memastikan adanya kecocokkan antara progress dgn rencana awal proyek, selain itu untuk memantau setiap penyimpangan yang ada dari rencana awal
Input:
    Berupa output-an dari proses sebelumnya

Output:
·        Adanya recommended corrective actions, preventive actions, dan defect repair
·        Terukurnya performansi
·        Terukurnya kontrol kualitas
·        Resolved Issues
– Closing
Meraih lebih banyak lagi stakeholders dan pelanggan yang menerima layanan ataupun produk akhir kita
Input:
    Berupa output dari proses penutupan
Output: 
·        Final Product, service or result
·        Menutup kontrak
·        Dokumentasi
Inisiasi proyek
Inisiasi proyek adalah tahap awal suatu proyek dimulai. Pada intinya, inisasi proyek adalah mengawali sebuah proyek, dalam artian memberikan gambaran global suatu proyek dalam bentuk definisi proyek. Dari defines proyek inilah akan akan kelihatan gambaran global sebuah proyek yang akan dikerjakan. Gambaran global ini biasanya bersi ruang lingkup proyek, lingkup proyek, tujuan proyek, waktu pengerjaan proyek, biaya proyek dan informasi umum lainnya.
Inisiasi proyek, dalam hal ini adalah dokumen definisi proyek yang akan dijadikan sebagai bahan, pegangan dan acuan dalam perencanaan proyek, yaitu pembuatan dokumen perencanaan manajemen proyek.
Dokumen inisiasi proyek
top-level dokumen perencanaan proyek. Di dalamnya, Anda menyatukan semua informasi yang dibutuhkan untuk mendapatkan proyek Anda mulai, dan mengkomunikasikan informasi kunci untuk stakeholder proyek. Dengan Dokumen Inisiasi Proyek yang baik adalah dengan menempatkannya bersama-sama, sehingga Anda dapat membiarkan semua orang memahami di mana proyek itu pos dari awal. Anda harus melakukan hal berikut untuk Dokumen Inisiasi Proyek :
1.      Mendefinisikan proyek dan ruang lingkup.
2.      Memberikan alasan proyek Anda.
3.      Mengamankan pendanaan untuk proyek tersebut, jika perlu.
4.      Mendefinisikan peran dan tanggung jawab peserta proyek.
5.      Memberikan informasi organisasi yang mereka butuhkan untuk menjadi benar produktif dan efektif dari awal. Dengan menciptakan PID, Anda akan menjawab pertanyaan-pertanyaan: Apa? Mengapa? Siapa? Bagaimana? Kapan?
Anda juga dapat menggunakan Bagan Proyek (Project Chart) bukannya Inisiasi Dokumen Proyek untuk tujuan ini karena mereka sangat mirip dokumen. Namun, Bagan Proyek biasanya memiliki kurang detail. Jadi Dokumen Inisiasi Proyek lebih cocok untuk proyek-proyek di mana Anda memiliki sumber daya untuk menulis dokumen yang lebih rinci.
Rencana proyek
Perencanaan adalah suatu proses yang mencoba meletakkan dasar tujuan dan sasaran termasuk menyiapkan segala sumber daya untuk mencapainya. Perencanaan memberikan pegangan bagi pelaksanaan mengenai alokasi sumber daya untuk melaksanakan kegiatan (Imam Soeharto, 1997). Secara garis besar, perencanaan berfungsi untuk meletakkan dasar sasaran proyek, yaitu penjadwalan, anggaran dan mutu.
Pengertian di atas menekankan bahwa perencanaan merupakan suatu proses, ini berarti perencanaan tersebut mengalami tahap-tahap pengerjaan tertentu Tahap-tahap pekerjaan itu yang disebut proses. Dalam menyusun suatu perencanaan yang lengkap minimal meliputi :
a. Menentukan tujuan.
Tujuan dimaksudkan sebagai pedoman yang memberikan arah gerak dari kegiatan yang akan dilakukan.
b. Menentukan sasaran.
Sasaran adalah titik-titik tertentu yang perlu dicapai untuk mewujudkan suatu tujuan yang lelah ditetapkan sebelumnya
c. Mengkaji posisi awal terhadap tujuan.
Untuk mengetahui sejauh mana kesiapan dan posisi maka perlu diadakan kajian terhadap posisi dan situasi awal terhadap tujuan dan sasaran yang hendak dicapai
d. Memilih alternatif.
Selalu tersedia beberapa alternatif yang dapat dipergunakan untuk mewujudkan tujuan dan sasaran. Karenanya memilih alternatif yang paling sesuai untuk suatu kegiatan yang hendak dilakukan memerlukan kejelian dan pengkajian perlu dilakukan agar alternatif yang dipilih tidak merugikan kelak.
e. Menyusun rangkaian langkah untuk mencapai tujuan
Proses ini terdiri dari penetapan langkah terbaik yang mungkin dapat dilaksanakan setelah memperhatikan berbagai batasan.
Tahapan perencanaan di atas merupakan suatu rangkaian proses yang dilakukan sesuai urutannya. Dari proses tersebut perencanaan disusun dan selanjutnya dilakukan penjadwalan.
Eksekusi proyek, pengawasan proyek, penyelesaian proyek, dan post-project follow-up
Dengan definisi proyek yang jelas dan terperinci, maka aktivitas proyek siap untuk memasuki tahap eksekusi atau pelaksanaan proyek. Pada tahap ini, deliverables  atau tujuan proyek secara fisik akan dibangun. Seluruh aktivitas yang terdapat dalam dokumentasi project plan akan dieksekusi. Sementara kegiatan pengembangan berlangsung, beberapa proses manajemen perlu dilakukan guna memantau dan mengontrol pelaksanaan proyek juga penyelesaian deliverables sebagai hasil akhir proyek


Sumber informasi
M1
M2
M3






Tidak ada komentar:

Posting Komentar